mhpratama
Market Narrative

Ketika Semua Narasi Terasa Gelap

Saat IHSG sudah turun 24,6% dari ATH dan narasi buruk datang bertubi-tubi, ada satu hal yang perlu kita tempatkan dalam konteks yang benar.

Belakangan ini, setiap kali membuka layar, rasanya selalu ada satu warna yang mewarnai hari, apalagi kalau bukan merah.

Bahkan per hari ini, $IHSG sudah turun 24,6% dari level tertingginya, sedikit lagi 25%. Angka yang bukan sekadar koreksi biasa. Dan seperti yang selalu terjadi di setiap fase penurunan dalam — narasi yang mengiringinya pun ikut memburuk.

Awalnya soal MSCI. Lalu datang downgrade ratings. Kemudian eskalasi konflik AS-Iran yang mendorong harga minyak menembus level psikologis. Dan sekarang, yang sedang hangat dibicarakan: defisit fiskal Indonesia yang berpotensi melampaui batas 3% terhadap PDB.

Satu per satu datang, bertubi-tubi. Seolah tidak ada ruang untuk bernapas.

Dan kira-kira, apa lagi nanti yang akan muncul berikutnya?

Resah? Pasti. Khawatir? Jelas.


Namun di tengah semua ini, ada satu hal yang perlu kita tempatkan dalam konteks yang benar.

Koreksi sedalam ini — lebih dari 25% dari ATH — bukan hal yang sering terjadi.

Historically speaking, dalam dua dekade terakhir, hanya ada segelintir periode di mana IHSG mengalami penurunan sedalam ini. Masing-masing memiliki ceritanya sendiri, tapi polanya cukup konsisten.

2008 — krisis subprime mortgage AS menghantam pasar global. IHSG terkoreksi hingga hampir 60% sepanjang tahun itu. Mendengar pengalaman dari para senior bursa saat itu, rasanya dunia benar-benar sedang berhenti.

2013-2015 — era tapering The Fed, devaluasi yuan China, harga komoditas yang anjlok ke titik terendah.

2020 — pandemi Covid-19. Dalam hitungan minggu, IHSG jatuh ke level yang sudah bertahun-tahun tidak terlihat. Trading halt berulang kali. Ketakutan ada di mana-mana.

2025 — reciprocal tariff Trum, serta isu ketidakpercayaan asing akan Danantara.

Semua episode itu, tanpa kecuali, terasa seperti akhir dari segalanya saat sedang terjadi.


Lalu bagaimana sekarang?

Yang saya lakukan adalah take a step back and breathe.

Bukan untuk mengabaikan realita. Tapi untuk bisa melihatnya lebih jernih.

Dan dari proses refleksi ini, saya menemukan bahwa ada setidaknya tiga jenis investor yang saat ini sedang menghadapi penurunan yang sama — namun dengan kondisi psikologis yang sangat berbeda.


Investor pertama.

Dia yang saat ini masih memegang cash yang cukup. Saham-saham yang ia hold, meski dalam kondisi floating loss, tetap merupakan bagian dari rencana awalnya. Terlebih, ia memiliki bumper — katakanlah dari dividen yang cukup — karena harga akumulasinya masih tergolong reasonable.

Bagi investor ini, penurunan kali ini memang tidak nyaman. Tapi masih bisa memberikan ketenangan dalam perjalanan investasinya.


Investor kedua.

Cash-nya sudah menipis. Saham-saham yang dipegang masih floating loss cukup dalam. Tapi untungnya, secara prospek, emiten yang dimilikinya masih tergolong favorable.

Mungkin saat ini dia sedang galau. Tapi belum sampai pada titik putus asa.


Investor ketiga.

Cash sudah tidak ada, saham yang dipegang pun tidak tau bagaimana tesisnya. Saat ini dia tidak tahu harus berbuat apa dengan portofolionya.

Mau dibilang trader — tidak bisa, karena tidak pernah disiplin cut loss. Mau dibilang investor — juga tidak, karena saham yang dibeli prospeknya tidak jelas, valuasinya pun mahal.

Mungkin saat ini, dia sedang mendapati pembelajaran paling mahal yang ditawarkan oleh bursa.


Dari ketiga jenis investor ini, sikap terhadap kondisi market pun sangat berbeda.

Harapan saya, semoga yang membaca tulisan ini sebagian besar masuk di kategori pertama atau kedua.

Namun terlepas dari kategori mana kita berada — ada satu hal yang ingin saya sampaikan.


Ada satu kesamaan dari semua tragedi penurunan ini.

Dari 2008. Dari 2015. Dari 2020. Tak terkecuali 2025.

Bahwa IHSG, pada akhirnya, selalu bounce back dan kembali mencatatkan all time high-nya.

Bukan soal apakah ia akan pulih. Tapi soal seberapa siap kita ketika pemulihan itu datang.

Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi soal berita buruk apa yang akan datang berikutnya — tapi seberapa tangguh fondasi yang sudah kita bangun untuk menahannya.


Disclaimer: Tulisan bukan rekomendasi. Hanya buah pikir penulis. Be wise.

← all articles