Ada satu istilah yang belakangan ini semakin sering saya temui di laporan-laporan global — private credit.
Istilah ini mungkin sedikit asing di telinga kita para investor lokal. Saya pun mendapatkan informasi ini awalnya dari beberapa sumber luar.
Saya mulai penasaran. Kalau nama ini muncul berulang, biasanya ada sesuatu yang sedang bergerak di bawah permukaan.
Meski asing, private credit bukan instrumen baru.
Cara termudah untuk memahaminya — bayangkan ada suatu perusahaan yang membutuhkan pinjaman, tapi mereka tidak mau atau tidak bisa ke bank, atau menerbitkan obligasi publik. Sebagai gantinya, mereka meminjam langsung dari para fund manager — seperti Blackstone, Apollo, KKR, dsb.
Seperti namanya, pinjaman bersifat private. Loan-nya tidak diperdagangkan, disimpan di buku fund sampai jatuh tempo. Tidak ada harga pasar.
Industri ini tumbuh dari sekitar $500 miliar di 2020 menjadi $2 triliun di 2025. Dalam lima tahun.

Sekilas, angka pertumbuhan itu terdengar seperti kisah sukses. Dan memang begitu narasi yang dijual — yield tinggi, floating rate, low volatility, diversifikasi dari saham dan obligasi.
Namun jika kita perhatikan lebih dalam, ada satu karakteristik struktural yang membuat industri ini berbeda dari instrumen kredit lain.
Tidak ada harga pasar berarti tidak ada mekanisme koreksi otomatis.
Yang menentukan nilai setiap loan adalah fund manager itu sendiri. Model valuasi mereka, asumsi mereka, keputusan mereka. Dan fund manager dibayar dari AUM serta performance. Kalau mereka mark down loan yang bermasalah, fee mereka turun.
Insentifnya jelas. Dan insentif selalu menang dalam jangka panjang.
Default rate resmi industri ini disebut sekitar 2%. Terdengar sehat.
Tapi ada praktik bernama Liability Management Exercises — restrukturisasi "kreatif" di mana loan bermasalah diubah bentuknya tanpa tercatat sebagai default.
Secara statistik bersih. Secara ekonomi? Bisa dikatakan kreditor sudah menanggung haircut.
Kalau praktik ini diperhitungkan, angka yang lebih mendekati realita ada di kisaran 5%.
Bukan angka yang sama.
Tidak sampai disitu, concern global juga tertuju pada suatu sinyal yang bagi saya ini lebih mengganggu dari default rate tadi — yaitu kenaikan porsi PIK loans.
Apa itu PIK?
PIK — Payment-in-Kind — arti sederhananya bunga tidak dibayar cash, melainkan bunga tersebut ditambahkan ke pokok utang.
Implikasinya, meski peminjam tidak punya kas, loan-nya masih tercatat "performing."
Sebelum pandemi, porsi PIK di income fund sekitar 4%. Di 2025? 8.3% — dua kali lipat dalam lima tahun.
Ini bukan tren yang bisa diabaikan — ini bisa kita anggap sebagai sinyal bahwa banyak peminjam yang sebetulnya sedang dalam tekanan, tapi tekanannya belum terlihat di permukaan.
Kita masuk ke kejadian yang baru-baru ini terjadi.
September 2025, dua perusahaan bangkrut dalam minggu yang sama — Tricolor dan First Brands — keduanya dengan dugaan manipulasi collateral.
Jamie Dimon — CEO JPMorgan, merespons: "If you see one cockroach, there are usually more."
Tidak lama kemudian, investor mulai menarik dana dari Business Development Companies. Alhasil, Blue Owl, Blackstone, KKR, Carlyle — semua mulai membatasi redemption.
Dan pada 10 April lalu, S&P Global bersama JPMorgan dan Morgan Stanley meluncurkan instrumen CDS pertama yang memungkinkan investor secara liquid bertaruh melawan private credit funds.
Ini masuk akal kalau kita tahu satu hal yang jarang dibahas. Bank-bank besar ini bukan sekadar penonton. Mereka juga yang menyediakan credit lines ke private credit funds — total komitmen bank AS ke industri ini diperkirakan sekitar $445 miliar di pertengahan 2025. Menurut riset Fed, credit lines yang diberikan bank besar ke private credit vehicles sendiri tumbuh 145% dalam empat tahun terakhir. Artinya, kalau fund-nya stress, sebagian tekanan itu akan balik ke neraca bank juga.
Di sinilah kenapa mereka membangun alat untuk short industri yang mereka sendiri ikut danai — kemungkinan sebagai bentuk hedging.
Setelah memahami masalah yang terjadi, banyak yang mengaitkan isu ini dengan krisis kredit 2008. Pertanyaannya wajar — apakah ini akan berulang?
Menurut saya, posisinya berbeda.
Di 2008, bank memegang aset beracun langsung di balance sheet mereka. Sekarang posisi bank lebih terlindungi — mereka ada di lapisan senior, yang pertama dilindungi kalau ada kerugian. Capital buffer pasca-regulasi 2008 juga jauh lebih tebal.
Tapi pertanyaannya bukan soal apakah bank akan runtuh.
Pertanyaan yang lebih tepat — seberapa besar stress ini bisa membuat kredit mengering untuk ekonomi riil, dan seberapa cepat?
Kalau private credit funds berhenti lending, perusahaan-perusahaan menengah yang selama ini bergantung pada jalur ini akan kehilangan akses kredit.
Ini seperti kisi-kisi untuk jalur perlambatan ekonomi — bukan collapse, tapi bukan nothingburger juga.
Lalu mengapa saya — sebagai investor yang sehari-harinya berkutat di IHSG — perlu memikirkan ini?
Bukan karena saya hold aset di sana. Tapi karena jalur transmisinya cukup nyata, meski tidak secara langsung.
Kalau stress ini membuat Fed lebih hati-hati memotong suku bunga, rupiah akan terus tertekan.
Kalau global risk appetite turun, aliran modal asing ke emerging market — termasuk IHSG — akan berkurang.
Efeknya bukan seperti diguyur dalam sekali waktu. Lebih seperti air yang perlahan naik.
Sikap saya sederhana — waspada, tapi tidak mengubah strategi secara drastis.
Saya tidak akan keluar dari pasar karena sesuatu yang belum terjadi dan mungkin tidak akan terjadi dalam bentuk yang kita bayangkan. Tapi saya juga tidak akan berpura-pura bahwa semua ini tidak relevan.
Yang perlu dijaga bukan posisi — tapi kejernihan berpikir ketika narasi mulai bergerak.
Karena kalau dampaknya benar-benar datang, yang paling dirugikan bukan mereka yang terlalu agresif. Melainkan mereka yang terkejut.
Disclaimer: Tulisan bukan rekomendasi. Hanya buah pikir penulis. Be wise.