Sekitar sebulan lalu, saya sempat menulis update kinerja BTPS per Februari 2026 — saat trend perbaikan pembiayaan baru mulai terlihat dan saya mencatat satu hal yakni kenaikan piutang umumnya butuh waktu untuk terefleksi di pendapatan.
Sekarang laporan kuartal pertama 2026 sudah rilis. Saatnya cek progress…
Pendapatan tercatat Rp1,247 miliar, turun 2,9% YoY dari Rp1,297 miliar. Laba bersih di Rp319,5 miliar, naik tipis 2,8% YoY. Kalau hanya berfokus ke 2 itu yang biasa dijadikan headline, kesannya flat — pendapatan masih turun, laba bersih bergerak sedikit di atas garis.
Penopangnya masih sama dengan periode sebelumnya. Beban CKPN turun signifikan ke Rp137,8 miliar dari Rp218,1 miliar — atau -36,8% YoY. Perbaikan kualitas aset yang sedang berjalan masih jadi tulang punggung laba.
Tapi yang menarik di Q1 ini bukan di sana.
Setelah hampir dua tahun kontraksi, jumlah pembiayaan kembali tumbuh secara YoY. Dari Rp10,251 triliun menjadi Rp10,627 triliun — atau +3,6%.
Mengapa angka ini penting? Karena secara historis, trend piutang sangat convergen dengan pendapatan.

Gambar 1 menunjukkan bagaimana keduanya bergerak nyaris paralel sejak 2023.
Piutang sempat mencapai puncaknya di April 2023, dan revenue mencatat puncaknya enam bulan kemudian di Oktober 2023. Lalu keduanya turun bersama. Pola yang sama berulang di sisi penurunan, dan sepertinya akan berulang di sisi pemulihan.

Jika mengacu pada analisa sebelumnya, lagging antara pertumbuhan pembiayaan dan pendapatan rata-rata berkisar 3-6 bulan dengan sweet spot di 2-4 bulan (Gambar 2).

Dan kalau dilihat dari perspektif YoY growth (Gambar 3), perbaikan pembiayaan sebenarnya sudah kembali terjadi sejak September 2025 hingga break ke area pertumbuhan positif di Desember 25, dan sekarang Q1 2026 sudah menyentuh +3-4% YoY.
Kalau historis benar berlaku, Q2 2026 jadi kuartal pembuktian.
Namun perlu dicatat — dari report manajemen yang dibagikan di Stockbit, manajemen sendiri berekspektasi pertumbuhan pembiayaan di Q2 akan mengalami perlambatan pasca lebaran, baru kembali normal di H2. Jadi reflection di pendapatan mungkin tidak sebersih yang historisnya tunjukkan.
Yang pasti, kombinasi pembiayaan meningkat dengan kualitas aset yang terjaga akan selalu jadi growth playbook emiten perbankan.
Sekarang soal restrukturisasi — concern yang saya tinggalkan di tulisan sebelumnya.

Bisa dilihat di Gambar 4, per Q4 2025, total piutang murabahah yang direstrukturisasi tercatat Rp314,9 miliar. Di Q1 2026, angka ini turun menjadi Rp281,9 miliar. Sekadar pengingat, pembiayaan yang direstrukturisasi ini adalah dampak dari banjir Sumatera yang dialami oleh para nasabah BTPS tahun lalu.
Saya jujur sempat khawatir. Posisi Rp300 miliaran di akhir 2025 itu tidak sedikit, dan
Tapi melihat trend penurunan total piutang restrukturisasi, ditambah impairment dan hapus buku yang cenderung stabil, rasanya tidak naif untuk berekspektasi nasabah masih dapat melakukan pemulihan mandiri. Setidaknya untuk sekarang.
Satu hal lagi yang perlu diingat — di Q4 lalu ada beban non operasional berkisar Rp50 miliar untuk anak usaha Dagangan. Beban one-off ini tidak akan ada lagi di tahun ini, sehingga secara growth di atas kertas bisa terangkat.
Sampai di sini, kerangka berpikirnya jadi lebih jelas.
Growth pembiayaan sementara berlanjut, dan kalau mengikuti pola historis, perbaikan pendapatan harusnya mulai terlihat di Q2. Tapi karena manajemen sendiri sudah memberi caveat soal stagnasi pasca lebaran, ini perlu dipantau berkala lagi — bukan diasumsikan begitu saja.
Urusan restrukturisasi, sejauh ini tidak perlu khawatir berlebih.
Beban one-off Q4 lalu akan jadi low base di tahun ini.
Main game-nya tetap di konsistensi pertumbuhan pembiayaan. Saat ini masih di level Rp10,6 triliun, kalau bisa kembali ke atas Rp11 triliun, that's a good sign.
Soal valuasi — di harga sekarang Rp1.000 per lembar, dengan asumsi forward EPS 2026 sebesar Rp166, earning yield BTPS berada di sekitar 16,6%. Belum dengan potensi dividen — jika DPR 60% dijalankan, dividend yield-nya sekitar 9,9%.
Apakah valuasi ini atraktif? Saya tidak bisa menjawab. Untuk memberikan ruang interpretasi ke masing-masing.
Yang juga perlu dimasukkan ke layer berpikir — manajemen sempat menyentuh soal dampak kelangkaan BBM dan inflasi di analyst meeting terbaru. Ini new issue yang belum tercover baik di tulisan ini atau di tulisan-tulisan sebelumnya.
Secara kesimpulan, sepertinya yang sedang dibangun di BTPS sekarang bukan recovery yang dramatis. Pembiayaan baru kembali tumbuh, pendapatan masih tertinggal, restrukturisasi turun perlahan, manajemen sendiri masih kasih caveat soal Q2.
Tapi arahnya mulai jelas. Dan bagi saya dalam menilai suatu emiten, arah seringkali lebih bisa dibaca lebih jelas daripada berfokus hanya pada angka di satu kuartal.
Disclaimer : Tulisan bukan rekomendasi. Hanya buah pikir penulis. Be wise.