Deep Investor Reflection

Stay Sane in the Insanity

Di tengah tekanan rupiah, polemik royalti mineral, dan sentimen pesimis dua pertiga audiens — bagaimana cara kita tetap waras dan berpikir jernih sebagai investor.

Selama hampir seminggu pasar libur, niat hati mau memanfaatkan waktu untuk refreshing sejenak, ternyata dipaksa tarik napas lebih dalam dengan berita-berita dalam negeri.

Belum selesai polemik kenaikan royalti mineral, rupiah terus keok ke level 17,600 per dolar. Sorotan media asing pun datang dengan artikel khusus yang mengkritik kondisi dalam negeri. Belum lagi masyarakat dibebankan pernyataan dari RI 1 terkait dolar yang muncul baru-baru ini. Jarang-jarang dalam satu periode, tekanan datang dari begitu banyak arah sekaligus.

Lebih menarik lagi, ketika saya cek poll yang saya buat di Telegram Cuanderful soal seberapa pesimis pembaca terhadap kondisi dalam negeri saat ini, hasilnya cukup mengonfirmasi atmosfer itu — 44% memilih "sangat pesimis", 23% memilih "pesimis". Dua pertiga audiens, dalam satu suara, ada di sisi gelap spektrum.


Saya pikir penting untuk tidak menafikan apa yang dirasakan banyak orang sekarang. Tekanan ini real. Pelemahan rupiah ke level psikologis baru bukan angka di layar, ia merembet ke biaya produksi, ke margin emiten, ke daya beli. Statement-statement yang muncul dari pengambil kebijakan — yang seolah tidak menyentuh inti masalah — menambah satu lapisan frustrasi tersendiri buat pelaku pasar yang masih berusaha berpikir jernih.

Tapi di sinilah letak pertanyaannya. Apa yang sebenarnya bisa kita lakukan sebagai pelaku pasar ketika berada di tengah situasi seperti ini?

Saya akan bicara di lapisan yang lebih mendasar dari sekadar tindakan portofolio — bagaimana cara kita tetap waras di tengah hiruk pikuk yang terjadi.


Setelah sekian lama perjalanan saya di bursa, salah satu pelajaran yang paling sering saya selalu ingat kembali adalah ini.

We can only control what's within our control.

Stay sane in the insanity — investor quote

Market bergerak atas kumulatif emosi dari jutaan pelakunya, ditambah variabel makro, politik, geopolitik, kebijakan, dan sentimen global yang kadang datang sekaligus seperti belakangan ini. Mustahil mengikuti itu semua. Apalagi mengaturnya.

Yang bisa diatur cuma cara kita memprosesnya. Dan untuk saya, prosesnya selalu kembali ke tiga hal yang sederhana — tapi paling sering dilupakan justru di momen-momen seperti sekarang.

Pertama, luangkan waktu untuk me-review ulang thesis yang ada di portofolio. Pasar sedang berisik, dan kebisingan itu cenderung membuat kita lupa kenapa awalnya kita masuk ke saham A atau saham B. Apakah alasan beli yang dulu masih berlaku? Apakah ada sesuatu yang fundamentally berubah pada bisnis tersebut, atau yang berubah hanya harga sahamnya?

Kedua, pastikan time frame yang diamini di awal masih kita pegang. Saham yang dibeli untuk horizon cukup panjang tidak seharusnya kita evaluasi berdasarkan gerakan harga dua minggu terakhir. Kalau time frame-nya jangka panjang, fluktuasi seperti ini adalah bagian dari paket — bukan alasan untuk panik keluar.

Ketiga, dan ini yang paling sering terabaikan — bedakan thesis yang gagal karena memang asumsinya salah, dengan thesis yang tertekan karena faktor eksternal di luar logika thesis itu sendiri. Kalau bisnisnya masih berjalan sesuai harapan, atau kalau proses aksi korporasinya masih akan berjalan, atau apapun itu alasan thesis awalnya — koreksi harga saat ini lebih banyak bicara soal sentimen daripada substansi.

Namun kalau ternyata thesis-nya memang sudah tidak relevan karena ada perubahan struktural, mengaku salah adalah satu hal terbaik yang bisa kita lakukan sebagai investor.


Sekarang, izinkan saya bawa diskusi ini ke satu lapisan lagi.

Setiap kali saya melihat sentimen pasar serentak menggelap seperti hasil poll tadi, ada satu kebiasaan lama yang sulit saya tinggalkan — saya buka data koreksi-koreksi besar IHSG di masa lalu.

Data Bloomberg sejak 2000 mencatat beberapa koreksi besar di IHSG. Taper Tantrum 2013 menyebabkan koreksi sekitar 24%. China Scare 2015 sekitar 25%. Liberation Day 2025 sekitar 25%. Koreksi YTD IHSG saat ini di angka 22% — masih dalam range yang sama dengan episode-episode itu. Koreksi yang lebih dalam, di teritori 38-61%, hanya terjadi pada saat krisis betul-betul sistemik seperti GFC 2008, pandemi 2020, atau dotcom bust 2000.

Maksud saya bukan untuk memprediksi bahwa pasar pasti berbalik besok lusa. Tidak ada yang bisa memastikan itu. Yang saya garis bawahi adalah konteks — bahwa secara historis, magnitude tekanan saat ini bukan teritori yang asing.

Dan dari semua episode tersebut, pola yang berulang justru sama. Ketika polling sentimen menunjukkan dominasi pesimisme di angka dua-pertiga ke atas, ketika narasi headline berlomba menulis hal-hal terburuk, dan ketika investor ritel mulai merasa "kali ini beda dari biasanya" — di titik-titik seperti itulah, secara historis, asymmetric opportunity justru paling terbuka.


Saya tidak menulis ini untuk meyakinkan siapa pun bahwa minggu depan IHSG akan rebound.

Saya tidak tahu.

Dan jujur saja, saya skeptis terhadap siapapun yang merasa tahu di tengah situasi sebising ini.

Yang saya ingin angkat lewat tulisan ini cuma satu — kepala yang dingin di pasar yang panas adalah aset yang lebih berharga daripada thesis yang paling brilian sekalipun. Karena thesis brilian tidak ada artinya kalau di eksekusinya kita menyerah pada panik.

Stay sane. Bukan karena masalahnya tidak real, tapi justru karena masalahnya real — dan keputusan terburuk biasanya lahir di momen di mana kepala kita paling tidak jernih.


Disclaimer: Tulisan bukan rekomendasi. Hanya buah pikir penulis. Be wise.